PEMANFAATAN CAMPURAN FESES TERNAK SEBAGAI BIOAKTIVATOR PENGOMPOSAN LIMBAH ORGANIK

  • Nurhidayah Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan (STTL) Mataram
  • Wahyudiana Ahsyam Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan (STTL) Mataram
Keywords: Limbah Pasar Tradisonal, laju pengomposan, Bioaktivator, NPK, rasio C/N.

Abstract

Sumber kegiatan yang paling banyak menghasilkan sampah adalah kegiatan yang dilakukan ditingkat rumah tangga kemudian diikuti oleh pasar tradisional, penanganan sampah pasar dapat dilakukan dengan metode pengomposan dan penambahan bioaktivator. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pengomposan limbah organik, mengetahui jumlah N-Total, P tersedia dan K2O tersedia, serta rasio C/N. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan menggunakan limbah organik dari pasar Tradisional kota Makassar. Variabel yang digunakan adalah feses ternak serta penambahan EM4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan limbah organik dengan penambahan bioaktivator dapat mempercepat laju pengomposan, dan yang paling efektif adalah perlakuan P2 dan P3 dilihat dari beberapa parameter per lima hari selama 30 hari, yakni P2 dengan perbandingan 60%:40% dengan hasil penelitian C-Organik 25,41%, N-Total 1,96%, P-Tersedia 1,50, K2O 0,92% dan C/N 13, Sedangkan P3 pada perbandingan 70%:30% C-Organik 25,32%, N-Total 2,01%, P-tersedia 1,41, K2O 0,91% dan C/N 13, dan rasio C/N memenuhi SNI 20004 pada semua perlakuan yang berkisar antara 10-20.

References

Badan Standarisasi Nasional. (2004). Spesifikasi Kompos Sampah Organik Domestik. SNI 19-7030-2004. Jakarta.
CPIS (Centre for Policy and Implementation Studies) dan Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. (1992). Penelitian dan Pengembangan Pupuk Kompas Sampah Kota. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian: 37-40.
Djuarnani, N. (2005). Cara Cepat Membat Kompos Kiat Mengatasi Permasalahan Prkais. Agromedia pustaka. Jakarta.
Hapsari, A.Y. (2013). Kualitas Dan Kuantitas Kandungan Pupuk Organik Limbah Serasah Dengan Inokulum Kotoran Sapi Secara Semianaerob, (Skripsi). Universitas Muhammadiyah Surakarta: Surakarta: 15-18.
Hermawan, D. (2011). Kompos dari Sampah Organik Menggunakan Bioaktivator,http://AlhudasindanGreret.blogspot.com/2011/kompos.html, diakses pada tanggal 26 Agustus 2017.
Maradhy, E. (2009). Aplikasi Campuran Kotoran ternak dan Sedimen Mangrove Sebagai Biokativator pada proses Dekomposisi Limbah Domestik. (Tesis). Makassar. Universitas Hasanuddin: 1-20
Noor E., Rusli, Mcika S. Y., M. Halim, A. Reza N. 2005. Pemanfaatan sludge limbah kertas untuk pembuatan kompos dengan metode windrow dan cina. Jurusan teknik industri pertanian. Vol.15(2). Hal: 67-71
Rahmah & Lailatul, N. (2014). Pembuatan Kompos Limbah Log Jamur Tiram: Kajian Konsentrasi Kotoran Kambing Dan EM4 Serta Waktu Pembalikan. (Jurnal teknologi pertanian). 49 – 66.
Ramadhani, A. (2013). Studi Pengelolaan Sampah Pasar Terpadu Kota Medan (Studi Kasus: Pasar Setia Budi Medan). (Tugas Akhir). Sumatera utara. Universitas Sumatera Utara.
Rochaeni, A., Deni, R., & Karunia, H. P. (2003). Pengaruh Agitasi Terhadap Proses Pengomposan Sampah Organik. Infomatek: 49-51.
William. F.B. (2000). COMPOST QUALITY STANDARDS & GUIDELINES: An International View. Final Report. Prepared for: New York State Association of Recyclers. Wood and Research Laboratory Incorporated.
Published
2020-05-09
Section
Articles