PENGARUH PEMBUBUHAN TAWAS SEBAGAI KOAGULAN TERHADAP PENURUNAN BIOLOGICAL OXYGEN DEMAND AIR LIMBAH TAHU DI DUSUN BUNSYAFAAH DESA PUYUNG KECAMATAN JONGGAT LOMBOK TENGAH

THE EFFECT OF ALUME PLANTING AS A COAGULAN ON THE DECREASE OF BIOLOGICAL OXYGEN DEMAND TOUCH WASTE WATER IN PUYUNG VILLAGE, JONGGAT SUB-DISTRICT, LOMBOK TENGAH DISTICT

  • Wafak Aprilianti Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan Mataram
  • Wahyudin Wahyudin Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan Mataram
Keywords: Air Limbah Tahu, Koagulan, Tawas, BOD

Abstract

Air limbah industri tahu memiliki angka Biological Oxygen Demand antara 1070-2600 mg/l, padatan tidak terlarut antara 2100-3800 mg/l dan Ph antara 4,5 - 5,7. Air limbah tersebut dihasilkan dari ± 875 L per 35 kg bahan baku kedelai koagulasi/floakulasi adalah proses penggumpalan partikel-pertikel halus yang tidak dapat diendapkan secara gravitasi, menjadi partikel yang lebih besar sehingga bisa diendapkan dengan jalan menambahkan koagulasi. Dalam prinsip pengolahan air, bahan bahan koagulan yang sering digunakan adalah tawas (AL2(SO4)3). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui adakah pengaruh pembubuhan tawas sebagai koagulan terhadap penurunan BOD air limbah tahu di Desa Puyung Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah. Hasil penelitian didapatkan hasil BOD awal air limbah tahu yang belum dibubuhi tawas 6020 mg/l sedangkan pada perlakuan variasi dosis tawas 2 gr/l  hasil pengujiannya adalah 5860 mg/l, pada perlakuan dosis tawas  4 gr/l hasil pengujiannya adalah 5680 mg/l  dan pada variasi dosis tawas 8 gr/l hasil pengujiannya 5935 mg/l sehingga belum ditemukan nilai signifikan terhadap pengaruh pembubuhan tawas sebagai koagulan terhadap penurunan BOD air limbah tahu di Desa Puyung Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah. Disarankan bagi intansi terkait seperti badan lingkungan hidup, dinas kesehatan, sebaiknya memberikan himbauan  dan penyuluhan tentang cara pengolahan limbah sebelum dibuang ke badan air, serta langkah baik apabila memasukan ke dalam program kerja, dan bagi masyarakat sebainya sebelum limbahnya di buang ke sungai seb, sebaaiknya diberikan tawas untuk mengurangi BOD yang ada dalam air limbah, serta bagi peneliti lain sebaiknya meneliti dosis selanjutnya sehingga didapatkan dosis optimal dalam menurunkan BOD air limbah tahu.

References

Abas S,. 2005. Pengolahan Limbah Tahu Secara Anaeobik-Aerobik Kontiyu. ISBN 978-602-98-569-1-0
Darsono, V. (2007). Pengolahan limbah cair tahu secara anaerob dan aerob. Jurnal Teknologi Industri, 11(1), 9-20.
Depkes, RI. 1991. Kantor Menteri Negara Kependudukan Lingkungan Hidup. 1991. Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan yang Sudah Beroperasi
Farhana, D. (2013). Pemanfaatan Ampas Tahu dan Limbah Jamur dalam Pembuatan Kompos Organik untuk Memenuhi Unsur Nitrogen (N). Bioscientist: Jurnal Ilmiah Biologi, 1(1), 51-57.
Ningsih, R. (2011). Pengaruh Pembubuhan Tawas Dalam Menurunkan TSS Pada Air Limbah Rumah Sakit. KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 6(2).
Nurlina, T. A. Z., & Gusrizal, I. D. K. (2015). Efektivitas Penggunaan Tawas dan Karbon Aktif pada Pengolahan Limbah Cair Industri Tahu. SEMIRATA 2015.
Salmin, O. T. (2005). Dan Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD) Sebagai Salah Satu Indikator Untuk Menentukan Kualitas Perairan. Oseana, Volume. XXX, Nomor, 3, 21-26.
Salsabila, U., Joko, T., & Dangiran, H. L. (2018). Perbedaan Penurunan Chemical Oxygen Demand (Cod) Melalui Pemberian Tawas Dan Poly Aluminium Chloride (Pac) Pada Limmbah Cair Rumah Pemotongan Hewan Penggaron Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal), 6(4), 525-531.
Sugiharto, 1987. Dasar-dasar Pengelolaan Air Limbah. UI PRES. Jakarta.
Sulistyanto, E dan H. W. Swarnam. 2003. Tecno Limbah Cair. Volume 7 tahun 2003. Pusat Pengembangan Teknologi Limbah Cair. Yogyakarta.
Taufik. 2008. Sosialisasi Pemanfaatan Limbah Air Tahu Dalam Pembuatan Nata Desoya Muara Pijoan. No. 46. ISSN 1410 0776
Published
2021-01-30
Section
Articles